Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan provinsi di ujung utara Pulau Sumatera yang kaya akan sejarah dan budaya. Keunikan utamanya terletak pada keragaman suku dan masyarakat adat Nanggroe Aceh Darussalam, yang hidup berdampingan dengan harmonis.

Meskipun Suku Aceh sering dianggap satu-satunya entitas, faktanya terdapat belasan suku di Aceh lainnya, seperti Gayo, Alas, dan Kluet. Artikel ini akan mengulas mendalam mengenai suku bangsa Aceh yang beragam, nama suku Aceh lainnya, dan wilayah suku Aceh secara spesifik.
Mengapa Ada Banyak Suku di Aceh?
Pertanyaan umum seperti "Aceh suku apa?" sering muncul karena dominasi Suku Aceh di wilayah pesisir. Namun, topografi Aceh yang terdiri dari wilayah pesisir dan pegunungan tinggi menyebabkan munculnya komunitas adat yang berbeda, masing-masing mengembangkan bahasa dan tradisi unik mereka sendiri. Keberagaman ini didukung oleh data resmi pemerintah Aceh yang mencatat setidaknya 13 suku asli provinsi tersebut.
Mengenal Suku-Suku Utama di Nanggroe Aceh Darussalam
Setiap suku di Nanggroe Aceh Darussalam memiliki ciri khasnya tersendiri.
1. Suku Aceh (Ureuëng Acèh)
Suku Aceh adalah suku mayoritas yang mendiami sebagian besar wilayah pesisir, termasuk Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Utara. Mereka dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius (mayoritas Muslim) dan memiliki sejarah panjang dalam perjuangan melawan penjajah serta menjadi pusat masuknya peradaban Islam di Nusantara.
Ciri khas suku Aceh meliputi penggunaan Bahasa Aceh (rumpun bahasa Chamik) dan keahlian dalam seni bangunan tradisional seperti Rumoh Aceh.
2. Suku Gayo
Suku Gayo merupakan suku asli terbesar kedua yang mendiami dataran tinggi Gayo di pedalaman Aceh. Wilayah utama mereka meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Masyarakat Gayo terkenal dengan budaya agrarisnya, kopi Gayo yang mendunia, dan seni pertunjukan yang kaya, seperti Tari Saman dan Didong. Pakaian adat mereka disebut Kerawang Gayo.
3. Suku Alas
Berada di wilayah tenggara Aceh, Suku Alas mendiami "Tanah Alas" atau Kabupaten Aceh Tenggara, yang dibelah oleh Sungai Alas (Lawe Alas). Bahasa mereka termasuk dalam rumpun bahasa Batak/Sumatera Utara, berbeda dengan bahasa Aceh pesisir. Salah satu makanan khas mereka yang terkenal adalah Manuk Labakh, hidangan sehat yang dimasak tanpa minyak.
4. Suku Lainnya: Simeulue, Singkil, hingga Aneuk Jamee
Selain tiga besar tersebut, masih banyak lagi nama suku Aceh lainnya yang tersebar di berbagai kabupaten:
- Suku Devayan dan Lekon: Dua suku berbeda yang mendiami Pulau Simeulue, sebuah pulau terpisah di Samudra Hindia, masing-masing dengan bahasa dan wilayah adatnya.
- Suku Singkil: Berada di wilayah Kabupaten Aceh Singkil, berbatasan langsung dengan Sumatera Utara.
- Suku Aneuk Jamee: Bermukim di Aceh Selatan dan sekitarnya, mereka memiliki akar keturunan Minangkabau.
- Suku Tamiang dan Kluet: Masing-masing mendiami wilayah perbatasan dan pedalaman lainnya di provinsi ini.
Suku dan masyarakat adat Nanggroe Aceh Darussalam merepresentasikan mozaik budaya yang luar biasa di Indonesia. Dari pesisir hingga pegunungan, keberagaman suku bangsa Aceh adalah aset berharga yang memperkaya khazanah budaya nasional. Memahami bahwa wilayah suku Aceh mencakup berbagai sub-etnis ini membantu kita mengapresiasi keunikan Serambi Mekkah secara lebih utuh.